Tampilkan postingan dengan label kenikmatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kenikmatan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Februari 2012

Srikaya yang Dibuat Selai dalam Roti “Menggoda Iman”


Srikaya yang di buat selay lapisannya yang tebal sedikit melesak dari celah tepian roti panggang saat di gigit. Dalam sekali kunyahan saja, dia mampu mengoyak ”iman” para pelaku diet yang disiplin. Apalagi ditemani segelas kopi hitam Sidikalang. Aduh, sedapnya….
Lagi pula, siapa yang kuat bertahan diet kala setangkup roti panggang srikaya yang harum menggeliat manja di depan mata?
Penganan ini sebenarnya sederhana saja. Bahan utama selai srikaya umumnya terbuat dari kuning telur dan gula. Variannya ada yang menggunakan santan, pandan, atau telur bebek. Selai srikaya yang kental lalu didekap oleh setangkup roti tawar ”kampung” beririsan tebal yang bentuknya serupa lubang kunci kuno. Setelah dibakar atau dipanggang beberapa menit, keharumannya kian semerbak menyusupi saraf penciuman.
Di Jakarta dan sekitarnya, ada dua kedai yang menyajikan roti srikaya yang baik, yakni serius dalam menghadirkan kenikmatan yang bersahaja. Keduanya adalah kedai kopi Sabang 16 di kawasan Sabang, Jakarta Pusat, dan kedai kopi Han Tiam di Gading Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Keduanya menghadirkan penganan sederhana, yakni roti dengan selai (jam) srikaya ala melayu dengan karakter jejak rasa yang khas.
Sumi Yang, pembuat selai srikaya dari Sabang 16, bercerita, selai srikaya yang digunakan memang mengacu pada srikaya ala Melayu di tanah Sumatera, warisan resep keluarganya. ”Resep srikaya ini adalah resep ibu saya. Dia dulu berjualan berbagai jenis makanan waktu masih tinggal di Bagansiapiapi (Riau), termasuk kue pasar yang sebagian menggunakan selai srikaya,” kenang Sumi.

Srikaya ala Sabang 16 tidak bersantan. Hanya telur ayam, gula, mentega, vanili, dan air. ”Ada juga sedikit bahan pembentuk rasa yang kami racik sendiri, sebut saja rahasia dapur, yang terbuat dari bahan-bahan organik,” ungkap Sumi.

Meski tampaknya sederhana, proses pembuatannya membutuhkan kesabaran. Menurut Sumi, pemasakannya butuh waktu hingga delapan jam di atas kompor. Setelah itu didinginkan di suhu ruangan, baru kemudian dimasukkan ke dalam kulkas. Proses pendinginan di suhu ruangan penting untuk menjaga konsistensi selai supaya tetap lembut.
Meski sama-sama berkiblat ke tanah Sumatera, roti bakar srikaya di kedua kedai tadi masing-masing punya karakter tersendiri. Di Sabang 16, olesan selai srikaya cukup tebal, berwarna kuning keemasan transparan dengan konsistensi yang baik, yakni tak terlalu pekat tetapi cukup kental.

Harap dicatat, selai srikaya untuk roti ini sama sekali tidak berhubungan dengan buah srikaya. Srikaya selai identik dengan warna kuning yang merefleksikan kekayaan.

Sementara rotinya yang berbentuk lubang kunci kuno itu masih berkulit di tepian dan berpotongan tebal. Roti ini diolesi margarin di bagian luar lalu dipanggang cukup kering di bagian luar dan lengas (moist) di bagian dalam. Roti cenderung terasa kenyal ketika bergumul di mulut bersama srikaya. Kandungan susu dalam roti sendiri cukup terasa. Mengingat teksturnya yang kenyal itu, menikmati roti panggang srikaya di Sabang 16 sebenarnya lebih pas dengan menggigitnya langsung dari genggaman tangan ketimbang dengan pisau dan garpu.

Garang

Roti bakar srikaya di kedai Han Tiam yang merujuk ke Pematang Siantar tampil lebih garang. Roti tawarnya, yang juga berbentuk lubang kunci, mengandung sedikit susu sehingga ketika dibakar bagian luar hingga ke dalam mengering dan kokoh. Di dalamnya terdapat pulasan selai srikaya yang meski tidak terlalu tebal, tetap menyeruakkan rasa yang kuat. Menurut Ronald Siahaan, salah satu pemilik Han Tiam, selai srikaya ini didatangkan dari Pematang Siantar, produksi rumahan kedai kopi kecil bernama Kedai Kopi Sedap di Jalan Sutomo. Selai srikaya ala Pematang Siantar ini berwarna kecokelatan pekat dengan harum pandan.
Dengan strukturnya yang kokoh, menikmati roti bakar srikaya Han Tiam cukup pas dengan pisau dan garpu. Namun, pelayan biasanya sudah mengiris-iris roti bakar itu dalam enam potongan berukuran sedang. Kita tinggal menusukkan garpu dan melahapnya, hap!
Alternatif lain di Han Tiam adalah roti kukus srikaya yang terasa lebih lembut di langit-langit mulut ketika kita mengunyahnya. Menghabiskan dua tangkup roti srikaya, versi bakar dan kukus, rasanya bukanlah dosa. Terlebih ditemani segelas kopi susu dari Pematang Siantar. Jika menikmatinya malam-malam, niscaya akan menjadi penganan penutup hari yang sempurna…
sumber : Srikaya yang Dibuat Selai dalam Roti “Menggoda Iman”

Kamis, 08 Desember 2011

Srikaya yang Dibuat Selai dalam Roti “Menggoda Iman”

http://artinya.info/2011/12/srikaya-yang-dibuat-selai-dalam-roti-menggoda-iman.html

Srikaya yang di buat selay lapisannya yang tebal sedikit melesak dari celah tepian roti panggang saat di gigit. Dalam sekali kunyahan saja, dia mampu mengoyak ”iman” para pelaku diet yang disiplin. Apalagi ditemani segelas kopi hitam Sidikalang. Aduh, sedapnya….
Lagi pula, siapa yang kuat bertahan diet kala setangkup roti panggang srikaya yang harum menggeliat manja di depan mata?
Penganan ini sebenarnya sederhana saja. Bahan utama selai srikaya umumnya terbuat dari kuning telur dan gula. Variannya ada yang menggunakan santan, pandan, atau telur bebek. Selai srikaya yang kental lalu didekap oleh setangkup roti tawar ”kampung” beririsan tebal yang bentuknya serupa lubang kunci kuno. Setelah dibakar atau dipanggang beberapa menit, keharumannya kian semerbak menyusupi saraf penciuman.
Di Jakarta dan sekitarnya, ada dua kedai yang menyajikan roti srikaya yang baik, yakni serius dalam menghadirkan kenikmatan yang bersahaja. Keduanya adalah kedai kopi Sabang 16 di kawasan Sabang, Jakarta Pusat, dan kedai kopi Han Tiam di Gading Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Keduanya menghadirkan penganan sederhana, yakni roti dengan selai (jam) srikaya ala melayu dengan karakter jejak rasa yang khas.
Sumi Yang, pembuat selai srikaya dari Sabang 16, bercerita, selai srikaya yang digunakan memang mengacu pada srikaya ala Melayu di tanah Sumatera, warisan resep keluarganya. ”Resep srikaya ini adalah resep ibu saya. Dia dulu berjualan berbagai jenis makanan waktu masih tinggal di Bagansiapiapi (Riau), termasuk kue pasar yang sebagian menggunakan selai srikaya,” kenang Sumi.

Srikaya ala Sabang 16 tidak bersantan. Hanya telur ayam, gula, mentega, vanili, dan air. ”Ada juga sedikit bahan pembentuk rasa yang kami racik sendiri, sebut saja rahasia dapur, yang terbuat dari bahan-bahan organik,” ungkap Sumi.

Meski tampaknya sederhana, proses pembuatannya membutuhkan kesabaran. Menurut Sumi, pemasakannya butuh waktu hingga delapan jam di atas kompor. Setelah itu didinginkan di suhu ruangan, baru kemudian dimasukkan ke dalam kulkas. Proses pendinginan di suhu ruangan penting untuk menjaga konsistensi selai supaya tetap lembut.
Meski sama-sama berkiblat ke tanah Sumatera, roti bakar srikaya di kedua kedai tadi masing-masing punya karakter tersendiri. Di Sabang 16, olesan selai srikaya cukup tebal, berwarna kuning keemasan transparan dengan konsistensi yang baik, yakni tak terlalu pekat tetapi cukup kental.

Harap dicatat, selai srikaya untuk roti ini sama sekali tidak berhubungan dengan buah srikaya. Srikaya selai identik dengan warna kuning yang merefleksikan kekayaan.

Sementara rotinya yang berbentuk lubang kunci kuno itu masih berkulit di tepian dan berpotongan tebal. Roti ini diolesi margarin di bagian luar lalu dipanggang cukup kering di bagian luar dan lengas (moist) di bagian dalam. Roti cenderung terasa kenyal ketika bergumul di mulut bersama srikaya. Kandungan susu dalam roti sendiri cukup terasa. Mengingat teksturnya yang kenyal itu, menikmati roti panggang srikaya di Sabang 16 sebenarnya lebih pas dengan menggigitnya langsung dari genggaman tangan ketimbang dengan pisau dan garpu.

Garang

Roti bakar srikaya di kedai Han Tiam yang merujuk ke Pematang Siantar tampil lebih garang. Roti tawarnya, yang juga berbentuk lubang kunci, mengandung sedikit susu sehingga ketika dibakar bagian luar hingga ke dalam mengering dan kokoh. Di dalamnya terdapat pulasan selai srikaya yang meski tidak terlalu tebal, tetap menyeruakkan rasa yang kuat. Menurut Ronald Siahaan, salah satu pemilik Han Tiam, selai srikaya ini didatangkan dari Pematang Siantar, produksi rumahan kedai kopi kecil bernama Kedai Kopi Sedap di Jalan Sutomo. Selai srikaya ala Pematang Siantar ini berwarna kecokelatan pekat dengan harum pandan.
Dengan strukturnya yang kokoh, menikmati roti bakar srikaya Han Tiam cukup pas dengan pisau dan garpu. Namun, pelayan biasanya sudah mengiris-iris roti bakar itu dalam enam potongan berukuran sedang. Kita tinggal menusukkan garpu dan melahapnya, hap!
Alternatif lain di Han Tiam adalah roti kukus srikaya yang terasa lebih lembut di langit-langit mulut ketika kita mengunyahnya. Menghabiskan dua tangkup roti srikaya, versi bakar dan kukus, rasanya bukanlah dosa. Terlebih ditemani segelas kopi susu dari Pematang Siantar. Jika menikmatinya malam-malam, niscaya akan menjadi penganan penutup hari yang sempurna…
sumber : Srikaya yang Dibuat Selai dalam Roti “Menggoda Iman”

Rabu, 07 Desember 2011

Seks bagi Perempuan Hanya Kewajiban?


Kehidupan seksual suami istri sangatlah berpengaruh pada kehidupan rumah tangga mereka. Namun sebuah survei yang dilakukan oleh situs Healthy Women mengungkapkan bahwa sekitar 66 persen perempuan melakukan aktivitas seksual hanya sekali dalam seminggu, atau bahkan kurang dari itu. Yang lebih parah, hal yang mendasari aktivitas seksual ini bukanlah hasrat seksual, melainkan lebih karena dorongan kewajiban sebagai istri.
Apa sebenarnya yang membuat berkurangnya gairah bercinta ini?
Menurut penelitian situs tersebut, padatnya aktivitas dan berkurangnya waktu menjadi alasannya. “Ini seperti tren yang berkembang pada perempuan, dimana hubungan seks hanya dilakukan semata-mata demi kewajiban, bukan sebagai gairah alami dan untuk kenikmatan. Para perempuan yang disurvei mengatakan rasanya waktu yang hanya 24 jam per hari tidak cukup untuk melakukan banyak hal penting, sehingga seks bukanlah prioritas yang harus dilakukan,” ungkap psikiater Naomi Greenblatt, MD.
Hubungan seks sebenarnya bukan sekadar sarana memuaskan hasrat seksual, karena sebenarnya ada beberapa manfaat kesehatan yang dapat diambil dari kehidupan seks yang aktif. Aktivitas seks yang teratur dapat menurunkan tingkat stres, memperkuat otot panggul, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan membakar kalori.

“Perempuan yang melakukan seks minimal empat kali dalam seminggu bisa membuat wajah mereka terlihat 10 tahun lebih muda dibanding usia yang sebenarnya,” ungkap Dr Greenblatt.

Dengan semua manfaat kecantikan dan kebugaran tersebut, mengapa para perempuan masih merasa “terpaksa” melakukan hubungan seksual, dan hanya menjadikannya kewajiban untuk “melayani suami”? Bagi mereka, permasalahan utamanya adalah tidak adanya waktu. Seks mungkin ideal untuk dilakukan menciptakan hubungan yang harmonis antara suami dan istri, namun sekarang ini seks bukanlah realita yang penting dibandingkan dengan bekerja dan melakukan aktivitas sosial lainnya.
Banyak perempuan yang masih beranggapan bahwa bercinta hanya bisa dilakukan di kamar dan dengan suasana yang hening serta romantis, sehingga akan membutuhkan banyak waktu dan hanya bisa dilakukan di waktu luang. Padahal kenyataannya tidak demikian. Mengapa tidak mencoba morning sex, ketika tubuh Anda masih terasa bugar? Anda juga bisa mencuri-curi waktu saat liburan bersama anak-anak untuk quickie sex.

seks sebenarnya bukan sekadar sarana memuaskan hasrat seksual, karena sebenarnya ada beberapa manfaat kesehatan yang dapat diambil dari kehidupan seks yang aktif. Aktivitas seks yang teratur dapat menurunkan tingkat stres, memperkuat otot panggul, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan membakar kalori

Pendek kata, kalau mau usaha, sebenarnya Anda bisa melakukan hubungan seks lebih sering, dan lebih menyenangkan!
sumber : seks dan kewajibanhttp://artinya.info/2011/11/seks-bagi-perempuan-hanya-kewajiban.html