Kolesterol adalah salah satu bahan yang menjadi
puncak utama kepada masalah peyakit jantung. Apabila kandungannya tinggi
di dalam darah, ia berpotensi melekat pada dinding salur darah. Ini
akan membuatkan salur darah mengecil dan akhirnya boleh tersumbat.
Proses ini dikenali sebagai atherosclerosis. Sekiranya berlaku pada
arteri yang ke jantung, kesannya adalah penyakit jantung.
Kolesterol sudah menjadi musuh manusia. Padahal, zat ini besar
manfaatnya untuk otak dan hati, serta jaringan saraf yang ada dalam
tubuh manusia. Bahkan, kolesterol berperan dalam pembentukan hormon
seks. Jadi, manusia memerlukannya di dalam proses biologi. Cuma tidak
boleh pada jumlah yang terlalu banyak.
Mendengar kata
kolesterol, pikiran kita sebagian besar pasti
terarah kepada penyakit pencabut nyawa seperti penyakit jantung,
stroke, dan sebagainya. Opini tersebut semakin terbentuk oleh banyaknya
iklan-iklan produk makanan yang memberi iming-iming “bebas
kolesterol”.
Ekspose secara berlebihan tersebut, memberi kesan bahwa kolesterol
merupakan musuh besar bagi kesehatan manusia. Benarkah kolesterol
berbahaya?
Ditilik dari sejarahnya, kolesterol memang memberi catatan buruk bagi
dunia medis. Pada tahun 1908, para ahli telah menemukan bahwa hewan
percobaan yang diberi makan daging, susu berlemak, dan telur secara
berlebihan akan mengalami endapan lemak pada dinding arteri (saluran
darah).
Hal tersebut menyebabkan saluran darah menjadi lebih sempit, disebut
sebagai aterosklerosis. Proses tersebut berlangsung sangat lama dan
merupakan cikal-bakal penyakit stroke dan serangan jantung. Pada tahun
1913, beberapa ahli merumuskan bahwa endapan lemak tersebut adalah
kolesterol.
Pada tahun 1916, Cornelius de Langen, seorang dokter asal Belanda
yang ketika itu berkerja di Indonesia, menemukan bahwa jumlah penduduk
asli Indonesia yang menderita sakit jantung lebih rendah dibanding orang
Belanda yang tinggal di Indonesia.
Ia membuat spekulasi bahwa kandungan kolesterol yang rendah di
kalangan orang Indonesia disebabkan pola makan yang lebih banyak
mengandung unsur tumbuhan, ketimbang orang Belanda yang lebih menyukai
daging dan makanan hewani lainnya.
Pada akhir Perang Dunia II, para ahli riset di Skandinavia menemukan
fakta bahwa kematian akibat penyakit jantung turun drastis selama
peperangan. Hal tersebut disebabkan menurunnya konsumsi daging, susu,
dan telur.
Saat ini para ilmuwan menemukan fakta bahwa orang yang menderita
sakit jantung, pada umumnya mempunyai kadar kolesterol yang lebih tinggi
dibanding orang yang sehat.
Di negara-negara maju yang konsumsi kolesterolnya tinggi (seperti
Amerika Serikat), penyakit jantung merupakan salah satu penyebab utama
kematian. Laporan American Heart Association (AHA) menyebutkan bahwa
lebih dari 100 juta orang dewasa di AS mempunyai kadar kolesterol di
atas rata-rata, dan 40 juta di antaranya mempunyai kadar kolesterol
sangat tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan angka kematian akibat
penyakit jantung dan stroke mencapai 500.000 orang setiap tahun.
Pada tahun 1976, Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa pengapuran
jantung akibat kolesterol telah dialami seseorang sejak berusia 20
tahun. Pengapuran tersebut semakin menebal 3 persen setiap tahunnya.
Melihat fakta-fakta di atas, tidak heran, banyak orang mengidentikkan
kolesterol sebagai sesuatu yang berbahaya bagi kesehatan manusia
meskipun pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar. Tulisan ini akan
memberikan informasi yang berimbang tentang dampak positif dan negatif
kolesterol.
Terbentuk di dalam Tubuh
Apakah kolesterol itu sebenarnya? Kolesterol merupakan produk khas hasil
metabolisme hewan. Kolesterol hanya terdapat dalam makanan yang berasal
dari hewan seperti daging, ikan, telur, susu, otak, dan jeroan. Dilihat
dari struktur kimianya, kolesterol merupakan kelompok steroid, yaitu
suatu zat yang termasuk ke dalam golongan lipid.
Pada manusia, Kolesterol dapat disintesis sendiri di dalam tubuh,
yaitu di bagian hati, korteks, adrenal, kulit, usus, testis, lambung,
otot, jaringan adiposa, dan otak. Sekitar 17 persen dari berat kering
otak terdiri atas kolesterol. Dengan demikian, tanpa Kolesterol,
struktur otak tidak mungkin terbentuk dengan sempurna.
Meskipun dianggap berbahaya, Kolesterol tetap dibutuhkan oleh tubuh.
Manusia rata-rata membutuhkan 1.100 miligram kolesterol per hari untuk
memelihara dinding sel dan fungsi fisiologis lain. Dari jumlah tersebut
25-40 persen (200-300 mg) secara normal berasal dari makanan dan
selebihnya disintesis oleh tubuh.
Jika jumlah Kolesterol di dalam tubuh kurang, sintesis kolesterol di
dalam hati dan usus meningkat untuk memenuhi kebutuhan jaringan dan
organ lain. Sebaliknya, jika jumlah kolesterol di dalam makanan
meningkat, sintesis kolesterol di dalam hati dan usus menurun.
Meskipun tubuh dapat mensintesis kebutuhan kolesterol, kolesterol
yang berasal dari makanan memegang peran penting karena merupakan sterol
utama di dalam tubuh manusia, serta komponen permukaan sel dan membran
intraselular.
Penelitian pada tikus menunjukkan, jika hanya terdapat 0,05 persen
kolesterol dalam makanan, 70-80 persen kolesterol tubuh akan disintesis
di hati, usus halus, dan kelenjar adrenal. Jika kandungan kolesterol
dalam makanan naik menjadi 2 persen, biosintesis kolsterol di dalam
tubuh menurun menjadi 10-30 persen.
Kolesterol dibutuhkan tubuh antara lain dalam sintesis asam empedu
yang diperlukan untuk proses pencernaan lemak atau minyak, sintesis
vitamin D, dan sebagai komponen membran sel. Kolesterol mempunyai peran
sangat penting dalam tubuh karena tidak hanya pembentuk membran sel,
tetapi juga pelopor biosintesis umum lain, termasuk hormon seks dan asam
empedu.
Kolesterol merupakan prekursor dari pengeluaran asam empedu yang
disintesis dalam hati dan berfungsi untuk menyerap trigliserida
(triasilogliserol) dan vitamin larut lemak dari makanan, serta sebagai
prekursor dari hormon steorid, estrogen, dan testoteron.
Peran lain kolesterol, yaitu membantu sel saraf menjalankan
fungsinya. Bila tanpa kolesterol, koordinasi gerak tubuh dan kemampuan
berbicara akan terganggu.
Jenis Kolesterol
Bila tubuh dalam keadaan sehat dan konsumsi makanan normal, tubuh
cenderung mempertahankan keseimbangan kolesterol. Kolesterol yang diasup
dan disintesis tubuh diubah menjadi jaringan, hormon, dan vitamin yang
kemudian beredar ke dalam tubuh melalui darah.
Kolesterol tidak dapat larut dalam darah. Agar dapat diangkut dalam
aliran darah, kolesterol bersama lemak-lemak lain (trigliserida dan
fosfolipid) harus berikatan dengan protein untuk membentuk senyawa yang
larut, yaitu lipoprotein.
Kilomikron merupakan lipoprotein yang mengangkut lemak menuju ke
hati. Dalam hati, ikatan lemak tersebut akan diuraikan, sehingga
terbentuk kembali unsur lemak. Asam lemak yang terbentuk akan dipakai
sebagai sumber energi atau bila jumlahnya berlebih akan disimpan dalam
jaringan lemak.
Bila asupan kolesterol tidak mencukupi, sel hati akan memproduksinya.
Dari hati, kolesterol diangkut oleh lipoprotein yang bernama LDL (low
density lipoprotein) untuk dibawa ke sel-sel tubuh yang memerlukannya,
termasuk ke sel otot jantung, otak, dan lain-lain agar dapat berfungsi
sebagaimana mestinya.
Kelebihan kolesterol akan diangkut kembali oleh lipoprotein yang
disebut HDL (high density lipoprotein) untuk dibawa ke hati yang
selanjutnya akan diuraikan dan dibuang ke dalam kantung empedu sebagai
asam empedu.
LDL mengandung lebih banyak lemak daripada HDL, sehingga ia akan
mengambang di dalam darah. Protein utama yang membentuk LDL adalah Apo-B
(apolipoprotein-B). LDL dianggap sebagai lemak jahat karena dapat
menyebabkan penempelan kolesterol di dinding pembuluh darah.
LDL merupakan pembawa kolesterol terbanyak, yaitu sekitar 60 persen
dari kolesterol total plasma. Meskipun sering disebut sebagai kolesterol
jahat, LDL mempunyai peran penting, yaitu membawa sterol ke jaringan
perifer dan digunakan untuk konstruksi membran atau untuk pembentukan
hormon steroid.
HDL adalah partikel lipoprotein yang padat dan kecil, disintetis
dalam hati maupun usus. HDL sering disebut sebagai lemak baik karena
dalam operasinya ia membersihkan kelebihan kolesterol dari dinding
pembuluh darah dengan mengangkutnya kembali ke hati. Hal tersebut diduga
merupakan mekanisme utama HDL dalam melindungi pembuluh darah terhadap
terjadinya aterosklerosis.
Lemak baik ini dapat menghilangkan kolesterol dari sel busa pada luka
ateroklerosis atau melindungi LDL dari modifikasi oksidasi. Rendahnya
kadar HDL di dalam plasma akan meningkatkan risiko penyakit jantung
koroner. Protein utama yang membentuk HDL adalah Apo-A (apolipoprotein).
HDL ini mempunyai kandungan lemak lebih sedikit dan kepadatan tinggi
atau lebih berat.
Sumber :
kolesterol ditakuti, tetapi juga dibutuhkan